Lima Menit

 
Alhamdulillah, aku selalu bersyukur hingga aku temukan bagian dari bahagia. Beberapa hari yang lalu aku bertemu denganmu, dengan suasana berbeda pastinya. Tidak kusangka akan ada banyak cerita berlanjut dari kita. Kemarin kita jarang bertegur sapa, apalagi duduk semeja. Menjadi asing hanya karena satu kata “kita cukup sampai disini saja”. Melihatmu dengan nya hanya tersenyum meratap rasa, “oh itu kekasihmu yang amat kau bela”. Dan pada saat itu aku putuskan untuk menghilangkan rasa dan bersandar pada asa. Entah apa yang sedang direncanakan olehNya. Namun aku akan tetap mengikuti setiap bagian dari cerita. 

Kita bertemu, seporsi nasi lengkap dengan beberapa lauk dan gelas yang berisi susu di pesan jadi teman obrolan canggung kita. Sembari menunggu, banyak persoalan kamu ceritakan. Sesekali kita berdua tertawa, menertawai hidup kita. Ternyata benar, kamu masih sama, keras kepala. “Haha aku ini sedang ngobrol dengan siapa?” carut marut hati antara senang atau pun sebaliknya. Senang karena kita bisa semeja, senang karena kita hanya berdua, senang karena kita tak lagi menjadi kata. Sedih karena suasana tak lagi sama, sedih karena kita telah berbeda rasa, sedih karena takut akan adanya luka (kembali).

Aku sebut hari itu hari untung.  Menjadi hari yang berkesan. Ya, kembali. Entah aku atau kamu. Kalau saja aku tak mengiyakan, tidak akan ada , tak ada istimewanya Jogjakarta, tak ada lima menit yang begitu berharga. Jika waktu itu aku tak mengiyakan mungkin tak ada ruas-ruas jari yang saling mengisi meyakinkan diri untuk bersama.
 

Atas segala bentuk coba aku yakin itu jadi bumbu cerita kita ~


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semesta Baik

Berkabar

Berkabar II