Sepantasnya
Mendung menyelimuti malam, menambah dingin
yang akan aku utarakan.
Sore tadi, kita baru saja diujung jalan
dari sebuah hubungan. Kau bubuhkan tangisan untuk mengiringi perpisahan.
Menjaga tak semudah mendapatkan, menerima tak semudah mengacuhkan. Berkali-kali
memotong kuku nampaknya menjadi sebuah kebiasaan yang mungkin saja dengan mudah
kau remehkan. Nampaknya kita harus memotong tangan, memotong hubungan.
Sore tadi aku
membaca sepucuk pesan dengan untaian kasih sayang. Entah dari siapa, aku
memilih enggan membeberkan. Yang ku rasa, kini aku enggan bertahan sendirian.
Sementara hubungan kita tak lagi terasa nyaman. Bagaimana tidak? Aku menjaga,
sementara kau se enaknya mendua. Aku berusaha ada, sementara kau sesuka hati
bersama nya. Memang benar, melukai lebih mudah ya.
Wahai seseorang di
balik handphone yang mengirimkan pesan untuk nya, terima kasih telah menorehkan
luka. Kita memang tak saling mengenal. Sebatas tau melalui sosial media,
sebatas tau dari foto profil yang kau tunjukan di akun WA. Kamu cantik, tapi
kamu picik! Memang benar Cinta itu buta, termasuk kamu. Buta bahwa seseorang
yang kau bangga sebenarnya dia tengah berdua.
Aku rasa sudah sepantasnya kita
berpisah.
Aku akan memilih bahagiaku dan kau harus
pergi dari kehidupanku.
Aku akan pergi.
Jangan mencari ku lagi disaat
terpuruk mu nanti.
Karena aku tak akan memberi mu kesempatan
kedua kali.
Aku dan kamu sama sama wanita. Selamat mbak, kamu berhasil mengisi akun wasap diaaa
BalasHapus